Biografi Sahabat Thalhah bin Ubaidillah

A. Sahabat Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Ka’ab (Makkah 594 M - Bashrah 656 M)

Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad Sholallahu’Alaihi wa Sallam pada kakeknya yang bernama Murroh bin Ka’ab.

Kuniah/nama panggilannya adalah Abu Muhammad, beliau adalah seorang yang sangat pemberani, beliau menjadi tameng hidup bagi Nabi Muhammad Shalallahu’Alaihi wa Sallam pada Ghazwah/perang Uhud.

Sampai beliau mengalami banyak luka pada tubuhnya karena sabetan pedang dan tombak, sampai Nabi berkata “Ijabah Thalhah” yaitu pada hari itu semua pahala kebajikan teruntuk Thalhah.

B. Nama dan Nasab

Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Maalik bin Nadhr bin Kinanah Al Quroshi Attaimi

Ibunya Sho’bah binti al Hadhramy bin Ubadah

C. Isteri dan anak

1) Isteri

  • Hamnah binti Jahshi
  • Khaulah binti Qo’Qo’a
  • Ummu Abaan binti ‘Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Sham
  • Ummu Kultsum binti Abi Bakar Ash-Shiddiq
  • Sa’di binti Auf bin Kharijah
  • Ummu Haaris binti Qasamah bin Handzalah
  • Ummu Walad
  • Far’ah binti Ali
  • Faari’ah binti Abi Sufyan
  • Ruqayyah/ Qariibah binti Abi Umayyah

2) Putra dan Putri

  • Muhammad
  • Imran
  • Musa
  • Ya’qub
  • Ismail
  • Ishaq
  • Zakaria
  • Yusuf
  • Yahya
  • Isa
  • Shalih
  • Ummu Ishaq
  • Aisyah
  • Sha’bah
  • Maryam

D. Keislaman

Thalhah tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah mengutus Rasulullah sebagai nabi, dan begitu juga ia tidak punya banyak waktu untuk mengenali bahwa nabi telah diutus kecuali waktu yang singkat, akan tetapi karena takdir yang baik telah tertutup itu suatu saat akan tersingkap sebagai sebuah kebaikan baginya di akhir.

Thalhah sendiri adalah merupakan seseorang yang berasal dari Bani Tamim yang merupakan suku yang sama dengan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu’Anhu yang telah lebih dulu beriman kepada Allah Rasulullah.

Ketika Thalhah sampai di kota mekkah dia bertanya kepada kaumnya tentang apa yang terjadi selama dia berada diluar kota mekkah kemudian mereka berkata :

“Bahwa sungguh Muhammad bin Abdullah telah muncul di tengah kami dan dia mengklaim bahwa sesungguhnya adalah seorang nabi akhir zaman dan sesungguhnya Abu Bakar telah mengikutinya".

Thalhah teringat dengan apa yang dulu pernah dia dengar dari perkataan seorang Rahib/pendeta, lalu kemudian dia berfikir sejenak bahwa Muhammad bin Abdullah adalah seorang yang sangat dipercaya dan amanah dimana seluruh orang belum pernah mendapati barang satu kalipun ia pernah melakukan kedustaan, dan begitu juga dengan Abu bakar seorang yang seluruh orang Quraisy telah mengetahui sifat amanahnya dan begitu baik akhlaknya.

Maka kemudian Thalhah berangkat menuju rumah Abu Bakar dalam rangka bertanya kepadanya tentang agama baru begitu juga tentang nabi akhir zaman ini.

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu’anhu kemudian menyambut dengan hormat kedatangan tamu sekaligus tetangganya tersebut lalu memberikan penjelasan yang begitu baik dan sangat memukau.

Thalhah ia duduk mendengarkan dengan fokus setiap paparan dari Abu Bakar sehingga islam menjadi dien yang dikagumi olehnya, ia mendapati bahwa apa yang dikatakan oleh Abu Bakar tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan yang dikatakan oleh Rahib.

Abu Bakar Ash-Shiddiq merasakan bahwa iman telah tumbuh memenuhi ruang hati Thalhah bin Ubaidillah ia pun segera membawanya untuk bertemu dengan Nabi Muhammad Sholallahu’Alaihi wa Sallam, dirumah Nabi Sholallahu’Alaihi wa Sallam.

Thalhah bin Ubaidillah duduk berhadapan dengan beliau lalu dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah dari Al Quran oleh Nabi disitu terlihat cahaya iman telah menyelimutinya serta hadirnya ketenangan hati pada dirinya.

Thalhah pun menangis meneteskan air mata yang mengalir di kedua pipinya, saat itulah ia pun mengumumkan keislamannya seraya mengucapkan dua kalimat syahadat bahwa tiada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad sebagai Hambah Allah, dan pada saat itu yang baru masuk islam hanya dua orang saja dan Thalhah bin Ubaidillah adalah orang yang ketiga pada saat itu hal ini menjadi satu pembuktian terhadap apa yang dulu dikabar oleh Rahib kepada Thalhah.

Thalhah bin Ubaidillah keluar dari sisi Rasulullah Sholallahu’Alaihi wa Sallam dimana iman telah terbit dan memenuhi seluruh ruang dalam hatinya, cahaya kebenaran memancarkan kuat dari dalam jiwanya, islam menjadi sesuatu yang sangat berharga baginya dari dunia dan segala apapun di atasnya, maka kemudian Nabi adalah sosok yang menjadi orang yang paling dia cintai dalam hatinya.

Akan tetapi keislaman dari sahabat Thalhah ini diketahui oleh musyrikin Quraisy mereka pun menyadari bahwa ia bukanlah termasuk golongan para budak yang lemah sebagaimana sahabat Bilal bin Rabbah dan Khabab bin Al Arat semoga Allah meridhoi mereka berdua akan tetapi Thalhah bin Ubaidillah adalah seorang bangsawan Quraisy yang terhormat oleh sebab itu mereka sedikit menahan diri untuk melakukan tindakan yang brutal terhadapnya.

Musyrikin Quraisy lebih memilih menggunakan metode yang lemah lembut guna mempengaruhi Thalhah agar mau mendengarkan nasehat dan masukan dari mereka hingga ia mau kembali kepada agama pagan Quraish, akan tetapi karena Thalhah telah merasakan begitu manisnya iman dalam hatinya ia pun mengabaikan ajakan orang-orang Quraisy tersebut dia bertekad akan selalu hidup dalam naungan islam dan menyatakan diri untuk siap sedia menerima segala konsekuensi walaupun ia harus mengorbankan kehidupannya tersebut.

Dengan demikian Kaum Quraisy Pun tidak tinggal diam begitu saja membiarkan Thalhah dengan agama barunya mereka diperintahkan oleh Singa Kaum Quraisy yaitu Naufal Ibnu Khuwailid untuk menghajar dan menyiksa Thalhah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Maka Naufal pun bangkit mengikat Thalhah dan Abu Bakar dengan seutas tali kemudian membiarkan mereka berdua kepada orang-orang bodoh dan para remaja yang melempari keduanya dengan batu serta menyiksa keduanya , mereka berdua hanya bisa terdiam sembari menahan sakit lalu seraya mengucapkan kalimat tauhid “ Tiada dzat yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Hamba dan utusan Allah”.

Tatkala musyrikin Quraish telah berputus asah dari menyiksa mereka lalu meninggalkan mereka berdua begitu saja akibat siksaan yang mereka alami tersebut semakin menambah keimanan kekuatan serta militansi mereka, keduanya pun dipanggil dengan gelar dengan “Qorinain” atau dua orang sahabat setia, keduanya telah dikumpulkan dalam keimanan serta pengorbanan di jalan Allah S.W.T.

Selama 13 tahun islam dan kaum muslimin di kota Mekkah mengalami penyiksaan dan gangguan akan tetapi mereka tetap sabar terhadap siksaan yang mereka alami sampai nanti datang pertolongan Allah kepada mereka, setiap kali bertambah api siksaan di kota mekkah pada saat itu pula semakin bersinar dan memanas keimanan dalam hati mereka.

Di Tengah kedzoliman yang menyelimuti kota mekkah terbit dari dalam jiwa dan hati mereka cahaya iman yang membuat semakin banyak orang yang masuk kedalam agama islam, akan tetapi semakin hari Adzab yang mereka terima semakin terus bertambah oleh karena itu Allah memerintahkan nabi untuk segera berhijrah ke kota Madinah yang kala itu bernama Yatsrib.

Thalhah bin Ubaidillah memperhatikan kota madinah yang ternyata kota ini dikelilingi oleh banyak sumber mata air dan pepohonan kurma ia lalu kembali mengingat pesan Rahib bahwa kelak nabi akhir zaman itu akan berhijrah ke tempat yang banyak air dan pohon kurma ia pun lalu bergembira karena tak lama lagi Allah akan memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.

E. Jihad Thalhah bin Ubaidillah Radhiallahu’anhu

Seruan jihad yang diumumkan ketika itu membuatnya bersegera menunggang kuda perangnya untuk berjihad di jalan Allah agar berada pada barisan terdepan dalam menjadi seorang mujahid dalam melawan musyrikin Quraish.

Sebelum pecah pertempuran di sumur Badar Nabi Muhammad Shalallahu’Alaihi wa Sallam mengutusnya bersama dengan sahabat Said bin Zaid Radhiallahu’anhu untuk menjadi observator memantau pergerakan pasukan di Wilayah Sham berapa jumlah pasukan tersebut dan dimana letak mereka akan berkumpul.

Setelah menjalankan misi itu lalu mereka berdua kembali dan mendapati bahwa Rasulullah Shalallahu’Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin telah mendapatkan kemenangan pada perang Badar, mereka berdua pun mendapatkan jatah pembagian dari harta Ghanimah atau rampasan perang, mereka berdua adalah orang yang hadir ikut dalam perang badar namun tidak ikut dalam pertempuran karena harus menjalankan misi yang ditugaskan nabi kepada mereka.

Adapun pada Hari Uhud adalah pada hakikatnya milik Thalhah sehingga sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq jika diingatkan padanya tentang peristiwa Uhud beliau pun berkata “Hari Uhud adalah Harinya Thalah” karena pada hari itu pada awal pertempuran kaum muslimin hampir saja meraih kemenangan akan tetapi para pemanah yang berjumlah 70 pasukan menyelisihi perintah Nabi mereka dengan meninggalkan pos mereka hingga kaum muslimin mengalami kehancuran karena sergapan dari pasukan kavaleri berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang saat itu masih kafir.

Tujuan utama kaum musyrikin Quraisy membunuh Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam mereka pun memusatkan pertempuran di sekitar beliau dengan harapan dapat segera membunuhnya pada saat yang genting itu.

Thalhah bin Ubaidillah melihat bahwa nabi telah terkepung dan darah telah mengalir di wajah beliau yang mulia kaum musyrikin menimpakan pukulan pada beliau dan tidak diragukan lagi mereka akan segera membunuhnya.

Thalhah pun merangsek dan menerobos barisan musuh dengan segera berada pada sisi Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam lalu memulai mengayunkan pedangnya menebas ke segala arah dimanapun serangan itu datang kaum musyrikin melancarkan serangan secara bergelombang baik dengan menebas dan menikam dengan tombak disebutkan pada hari itu.

Thalhah harus mengganti pedangnya beberapa kali karena pedang yang digunakan mengalami patah berulang kali ia bertempur dengan gagah berani menerjang laksana singa yang kelaparan tanpa takut sedikitpun akan kematian.

Abu Bakar ash-Shiddiq dan Abu Ubaidah bin Amir ibnu Al Jarrah segera menyusul dan mendekat kepada Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam lalu mengusap darah yang mengalir di wajah dan kepala beliau lalu kemudian Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam berkata kepada mereka berdua :

“ Hendaklah kalian berdua melihat sahabat kalian sungguh keinginannya(syahid) telah diterima Allah”

Artinya Thalhah bin Ubaidillah telah berhak masuk jannah, mereka berdua pun menghampirinya dan ternyata Thalhah telah tergeletak tak berdaya dengan sisa tenaganya ia masih bernapas dengan 60 luka hujaman pedang dan tombak.

Abu Ubaidah memperhatikan Thalhah dimana ternyata telapak tangannya terputus dan berada dekat kepala Thalhah kaum musyrikin telah memotong tangannya dimana dengan kedua tangannya itu ia berhasil melindungi dan membawa Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam jauh dari jangkaun mereka.

Thalhah pemilik kemuliaan karena ia telah mendapatkan gelar sebagai seorang Syahid yang berjalan diatas bumi

Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shalallahu’Alaihi wa Sallam

من سره أن ينظر الى شهيد يمشي على الأرض فلينظر إلى طلحة بن عبيد االله>

artinya : “ Barang siapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan diatas bumi maka hendaklah ia melihat kepada Thalhah bin Ubaidillah”

Maka kemudian mulai dari saat itu Thalhah bin Ubaidillah Radhiallahu’anhu dipanggil dengan

الشهيد الحي>

Syahid yang Hidup.

F. Beberapa hal yang dilakukan

Menamai anak-anak dengan nama para nabi dan ibu mereka.

Beliau sangat gemar dan rajin dalam berderma di jalan Allah hingga Nabi memanggilnya dengan Thalhah al Khair, Thalhah al Jud, Thalhah al fayaad, beliau seorang yang kaya dan memiliki banyak harta yang disedekahkan seluruhnya dijalan Allah juga membagi bagikannya kepada para kaum miskin dan papa.

Dikisahkan oleh istrinya bahwa dalam sehari Thalhah bersedekah 100 ribu dirham.

Topik :
Siroh

Terkait