Kajian Pra Nikah

Nikah merupakan ibadah istimewa, unik dibandingkan ibadah-ibadah lainnya, yang mana ibadah lain mensyaratkan waktu, seperti sholat misalnya yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, ataupun ibadah puasa yang dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah nikah tak terikat masa, dimulai sejak seseorang akad nikah hingga tutup usia…akhir hayat.

Dalam rentang waktu yang amat sangat panjang ini bisa dipastikan riak-riak, gelombang , dan badai akan menghantam bahtera rumah tangga ini.

Oleh karenanya perlu kajian pranikah, bekal dan persiapan yang matang sebelum seseorang memasuki bahtera rumah tangga ini,

Ada pepatah mengatakan

“Man arofa bu’das safari ista’adda”.

“Barang siapa mengetahui jauhnya perjalanan pastilah ia siap siaga.”

Tidak sedikit bahtera rumah tangga yang akhirnya tenggelam.

Oleh karenanya jangan ada yang menganggap dengan menikah akan selesai semua problem.

“Pernikahan merupakan sebuah jenjang kehidupan yang mana semakin tinggi jenjang kehidupan otomatis semakin meningkat pula problematikanya.”

Pernikahan merupakan salah satu tanda kekuasaan Alloh di antara tanda-tanda kekuasaan Alloh yang lain QS Ar-Ruum ayat 31, sementara tanda kekuasaan Alloh yang lain diantaranya adalah penciptaan langit dan bumi, perbedaan cara ucap atau Bahasa serta lahjah,

Perbedaan warna kulit terdapat dalam QS Ar-Ruum ayat 22, petir yang menimbulkan ketakutan sekaligus harapan, hujan yang menghidupkan bumi setelah kematiannya (kegersangannya). Tanda kekuasaan Allah ada 2 yaitu ayat quraaniyyah dan ayat kauniyyah (tanda kekuasaan Allah di alam raya).

Oleh karenanya jangan pernah lalai ataupun lupa kalau kita sedang ibadah nikah, ketika menghadapi anak begini….suami begitu…dll.

SIAPAKAH JODOHMU ???

Rumus dari Allah terdapat dalam surat An-Nur ayat 26

Laki-laki baik akan berjodoh dengan wanita yang baik, wanita baik akan menikah dengan laki-laki baik, sebaliknya laki-laki keji akan berjodoh dengan wanita keji, serta wanita keji akan menikah dengan laki-laki keji.

Asbabun Nurul ayat ini yaitu peristiwa haditsul ifky (berita dusta) hal mana Aisyah RA dituduh serong dengan sahabat Shofwan bin Muaththol.

Begini sekilas kisahnya…..

Ketika dalam perjalanan pulang dari sebuah peperangan, dan istirahatlah Aisyah RA yang kebetulan ikut serta dengan Nabi, kalung Beliau hilang alias terjatuh, maka Aisyah pun kembali mencari kalung tersebut tanpa memberitahu seorang sahabatpun

Sementara Aisyah pergi, rombongan yang membawa Aisyah diatas sekedup, mengangkat sekedup dan melanjutkan perjalanan, mereka tidak menyangka sekalipun kalau mereka mengangkat sekedup kosong,

Hingga ada beberapa mufassir yang menjelaskan betapa ringan tubuh Aisyah RA, sampai sampai para sahabat yang membawa beliau tidak bisa membedakan ada dan tidak adanya Aisyah di atas sekedup tadi.

Ketika Aisyah kembali setelah menemukan kalungnya, betapa terkejutnya ia karena rombongan telah pergi, maka Aisyah tetap di tempat berharap rombongan akan kembali setelah merasa kehilangan ia.

Karena lama, mengantuklah Aisyah RA hingga tertidur, bangun-bangun karena mendengar istirja (bacaan inna lillahi wa inna ilaihi rojiun).

Sahabat Shofwan bin Muaththol As Sulami Adz-dzakwany. Tanpa sepatah katapun Ia lalu merendahkan hewan tunggangannya lalu menjauh dan setelah Aisyah naik Shofwan kembali menuntun kendaraannya hingga tiba di kota Madinah, setelah peristiwa ini gemparlah kaum Muslimin atas desas desus yang terjadi di kalangan masyarakat

Bahwa mereka menuduh Aisyah berselingkuh dengan sahabat Shofwan lalu turunlah ayat ini sebagai bantahan mereka serta sebagai pembebasan diri Aishah dari Allah Subhanahu wa ta’ala secara langsung berupa ayat yang selalu dibaca kaum Muslimin hingga akhir zaman. Mustahil nabi berjodoh dengan wanita penzina.

Lalu apa ikhtiar ataupun kiat-kiat bagi seorang gadis untuk mendapatkan suami sholeh ??? banyak selfie di medsos…banyak pertemanan dengan lawan jenis di medsos.. Atau apa?

Kiatnya tak lain dan tak bukan kecuali senantiasa memantaskan diri, dengan cara menuntut ilmu-ilmu syar’i targetnya hingga ia paham hukum-hukum dalam islam, juga belajar adab, ta’dib hingga senantiasa berhias diri dengan akhlaqul karimah.

Sisi Akhlaq ini harus ada penekanan, mengapa? Karena setelah seseorang menikah yang akan selalu tampak dan tersorot adalah sisi akhlaq ini.

Berapa banyak ukhti muslimah yang rupanya sangat cantik, otak juga cukup encer, lulusan lembaga pendidikan islam terkenal namun sayang seribu sayang kurang bagus muasyarohnya sama mertua, tidak bisa akur dsb, kasus ini tidak sedikit terjadi, mungkin bagi ummahat yang sudah menikah kisah ini sudah tidak asing lagi kita dengar.

MASALAH SEKUFU

Apa sih sekufu itu? Seberapa pentingkah sekufu ini sebagai standard acuan seseorang dalam mencari pasangan hidup?

Sekufu dalam Bahasa arab artinya seimbang atau setara.

Hukum sekufu

Ada beberapa pendapat tentang masalah sekufu ini

1.Sekufu hanya dalam ruang lingkup iman dan taqwa

Dalil QS Al-Hujurat ayat 13

Dari Al-Hadits “Idzaa jaakum man tardhouna diinahu wa khuluqohu fankihuu tsalaatsa marrootin

Khithob ini ditujukan kepada para wali apabila ada seorang laki-laki yang melamar, sementara agama dan akhlaknya bagus untuk menerimanya dan segera menikahkannya, tanpa perlu melihat lagi aspek aspek yang lainnya.

Dalil dari hadits Rosululloh menikahkan Zaenab binti jahsy dengan Zaid bin haritsah, siapakah Zaenab? Ia merupakan puteri bibi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ibunya bernama Umaimah binti Abdul Mutholib, sementara Zaid seorang sahaya yang dimerdekakan Nabi Sekaligus Beliau ambil sebagai anak angkat.

Sahabat Bilal bin Robah menikah dengan saudari Abdur Rahman bin Auf.

Sahabat Aly ketika ditanya masalah sekufu beliau juga berpendapat seperti ini, sebagaimana sahabat Umar RA, Ibnu Masud , Muhammad bin Sirin, Umar bin Abdul Aziz, Ibnul Qoyyim Aljauziyyah.

2.Faktor Nasab

Jadi selain akhlak dan agamanya bagus juga dilihat segi nasabnya. Yang berpendapat demikian adalah mazhab Syafii dan mazhab hanafi.

3.Status social (al markaz al ijtima’i). Ini pendapat ulama mutaakhirin, ulama kontemporer.

Sumber: FIQH SUNNAH OLEH SAYYID SABIQ

BAGAIMANA KITA MENGAMALKAN MASALAH SEKUFU INI ???

Yang perlu diingat, bahasan masalah sekufu ini tujuannya agar supaya kedua mempelai dapat menggapai keluarga sakinah , mawadah warohmah. Sebagaimana biasanya seseorang akan lebih nyaman, serta mudah beradaptasi dengan orang yang setara dengannya, tidak njomplang njomplang amat.

Agar mudah dipahami, disini kami akan coba terangkan dari sisi karakter calon mempelai (wanita). Apabila ia tipenya pendiam, pemalu, serta introvert (tertutup) sebaiknya masalah sekufu ini benar benar menjadi bahan pertimbangan.

Karena setelah menikah, seorang istri akan ikut suami dan lebih intens berinteraksi dengan keluarga suami. Akan sangat memberatkan bila orang tipe ini harus bergaul serta berinteraksi dengan orang orang yang banyak perbedaannya.

Ia harus ekstra beradaptasi. Karena kebahagiaan itu sejatinya kenyamanan. Di lingkungan elitpun kalau kita tidak nyaman, rasanya sulit untuk menggapai bahagia.

Berbeda halnya bila calon mempelai (wanita ) orangnya luwes, pandai bergaul, terbuka, urusan sekufu ini tidak usah terlalu dijadikan masalah, karena ia akan mudah beradaptasi, berinteraksi dengan siapapun, di lingkungan manapun.

Masalah sekufu ini menjadi hak bagi pengantin wanita beserta walinya, bukan mempelai pria. Oleh karena itu calon pengantin pria apabila hendak menikah dengan wanita yang tidak sekufu ini tidak masuk pembahasan.

Karena sebagaimana biasa laki-lakilah yang akan melamar, sebelum melamar tentu dia sudah menentukan berbagai halnya, berbeda dengan wanita yang menjadi objek, atau yang dilamar.

Sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikah dengan wanita-wanita yang tidak ada yang setara dengan beliau. Demikian pula Umar Bin Khatab, menikahkan putranya dengan gadis biasa, gadis penjual susu yang amat sangat masyhur kisahnya.

SKILL APA YANG DIBUTUHKAN ???

Setelah seseorang menikah, maka ia akan tambah status, dari hanya seorang anak saja, menjadi seorang anak, juga seorang istri sekaligus ibu.

Urusan sumur, dapur, Kasur kalo istilah zaman old, ini memang utama dengan segala pernak perniknya. Urusan sumur mungkin sudah tidak terlalu repot, karena sudah ada mesin cuci, urusan dapur juga sudah banyak rumah makan dan pedagang masakan jadi.

Tapi disini saya akan sedikit menyinggung urusan dapur ini. Halal dan thayyib adalah syarat mutlak makanan orang yang beriman sebagaimana firman Allah

Kuluu fielardli halaalan thoyyiban

Jadi selain dijamin kehalalannya yang kita konsumsi juga harus thoyyib, thoyyib bahannya, gizinya, perpaduannya , agar kita makan dengan gizi seimbang.

Terkadang kita tuh agak aneh, di rumah dah ada karbohidrat, protein…pas kebetulan kita keluar rumah e….bukannya beli buah yang belum ada di rumah malah beli gorengan….bukan berarti nggak boleh beli gorengan ya..karena gorengan ini makanan yang sangat populer juga sangat familiar di lidah kita, pasti pada suka, hanya saja kita berusaha lebih bijak dalam membeli makanan agar tercapai gizi yang seimbang 4 sehat 5 sempurna.

Terkhusus susu amat sangat diperlukan terutama bagi wanita, terlebih yang sering melahirkan, karena wanita yang sering hamil dan melahirkan itu kalau sang bayi tidak cukup kebutuhan kalsiumnya ia akan menggerogoti kalsium sang ibu.

Makanya sering kita temui ibu-ibu mengeluhkan sakit tulang punggung, gigi, bahkan ada kasus seorang ukhti muslimah ini setiap hamil dan melahirkan satu giginya tanggal, bisa dibayangkan kalau ia punya 5 anak, berarti gigi yang tanggal 5 buah, mengerikan bukan?

Yang tak kalah penting adalah keterampilan sederhana (artinya tidak terlalu muluk muluk dalam arti kata harus banyak-banyak mengikuti seminar, tetapi aktif dan proaktif selalu bertanya dan konsultasi pada orang-orang yang kompeten setiap kali ada kesempatan)

Seni mengajar serta mendidik anak, karena setiap anak itu unik, berbeda karakter dan sifatnya Antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tentu saja seorang ibu wajib memahaminya serta berusaha untuk menangani dengan berbagai metoda yang sesuai dengan karakter setiap anak.

Juga pengetahuan kesehatan tentang penyakit penyakit ringan, cara mengobati sekaligus tindakan preventifnya, PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan) seperti anak tergores pisau, paku dll, anak jatuh dsb.

Tidak jarang seorang ukhti muslimah yang sudah punya anak begitu heboh dan bingung ketika anaknya terjadi sesuatu padanya, bukannya segera ambil tindakan…pernah nemuin? Ato ngalamin?

Memang idealnya harus ada pelajaran kesehatan untuk santriwati kelas akhir , agar tidak terlalu blank saat menikah dan menjadi seorang ibu.

Kami dulu di pesantren kelas akhir ada pelajaran kesehatan yang diampu oleh ustadz dokter beliau alumni pesantren sekaligus punya ijazah kedokteran.

Kita belajar tentang kehamilan, penyakit penyakit ringan atau paling tidak sesekali diadakan penyuluhan kesehatanlah.

ALUMMU MADROSATUN

Karena seorang ibu itu madrasah bagi anaknya, maka sikap, tindakan, ucapan harus selalu dijaga betul-betul. Dari Ibulah seorang anak akan menyerap apapun itu, baik kebaikan atau keburukan sebelum ia menyerap dari lingkungannya , baik itu gurunya, maupun temannya.

Kalau engkau menginginkan anak hebat, maka engkau harus menjadi ibu yang hebat pula, kalau engkau menginginkan anak penyabar, maka engkaupun harus penyabar.

“FAAQIDUSY SYAI LAA YU’THIIH”.

Seseorang yang tidak punya itu mustahil akan memberi, Seorang ibu yang temperamen sangat sulit akan melahirkan anak yang penyabar. So what? Ibda bin nafsi. Mulai sekarang mari perbaiki diri kita, supaya lahir generasi khoiru ummah. -aamin

Topik :
Muslimah

Terkait