Keumalahayati, Laksamana Perempuan Pertama di Dunia

Pelajari sejarah, karena orang yang tidak tahu sejarah ibarat anak pungut yang tidak tahu nasab atau asal usulnya, atau seperti orang tua pikun yang sudah lupa ingatan akan masa lalunya.

Kata-kata ini penulis nukil dari CERDASTA Official, sebuah link yang membahas sejarah Islam dan umat Islam; baik perang (pedang Varna, Mohács, dll.), sejarah kampus tertua di dunia seperti Universitas Palermo di Italia, sampai jejak Islam di Amerika. Silakan bagi pembaca yang penasaran untuk membukanya.

Kali ini, penulis mengajak pembaca semua untuk kilas balik, memutar waktu ke zaman Kesultanan Aceh Darussalam. Salam. Ada sosok wanita keren dan jagoan yang bernama Laksamana Keumalahayati.

Keumalahayati dikenal sebagai pendiri Inong Balee, pasukan perang pertama yang seluruh anggotanya adalah perempuan dan ditakuti oleh musuh di perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka.

Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 tak lepas dari peran besar para pejuang dalam upaya mengusir penjajah yang bercokol di bumi Nusantara sejak 350 tahun lalu.

Sudah tak terhitung berapa banyak nyawa yang dipertaruhkan oleh para kusuma bangsa demi terwujudnya kemerdekaan sebagai syarat berdirinya suatu negara berdaulat. Malahayati adalah salah satu dari sekian banyak pejuang tersebut.

Ia merupakan perempuan asli Aceh, lahir pada 1 Januari 1550, dan menjadi salah satu dari beberapa singa betina dari Tanah Rencong yang bernyali besar, selain Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia, yang melawan kolonialisme. Terlahir dengan nama Keumalahayati, ia berasal dari keluarga pengarung samudra berdarah biru.

Seperti tertulis dalam buku Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah karya Ismail Sofyan, disebutkan bahwa ayah Malahayati, yakni Laksamana Mahmud Syah, adalah Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh.

Malahayati adalah cicit dari Sultan Salahuddin Syah, raja kedua di Kesultanan Aceh yang memerintah pada tahun 1530 sampai 1539.

Masa remaja Malahayati dihabiskan di lingkungan istana, termasuk mengikuti akademi militer matra angkatan laut Kesultanan bernama Mahad Baitul Maqdis.

Setelah penulis mengulik dari berbagai sumber, ternyata instruktur dari Pasukan Khusus Turki Utsmani, yaitu pasukan Jenissary (dalam literasi Arab الانكشارية), yang menjadi pelatihnya. Saat berusia sekitar 35 tahun atau sekitar 1585, Malahayati dipercaya menjabat Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah semasa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil memerintah.

Perlawanan terhadap kolonialisme Portugis pertama kali dilakukan Malahayati lewat sebuah pertempuran di perairan Teluk Haru dekat Selat Malaka pada 1586. Suami Malahayati, Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief, yang juga Kepala Pengawal Sultan, memimpin pertempuran tersebut.

Puluhan kapal kayu Kesultanan Aceh berusaha mencegat kapal-kapal perang Portugis. Armada perang Kesultanan Aceh mampu memukul mundur Portugis, namun sayang, suami Malahayati gugur dalam pertempuran itu.

Ia tidak dapat menerima kenyataan tersebut dan berjanji menuntut balas serta meneruskan perjuangan sang suami. Posisi mendiang Laksamana Tuanku Mahmuddin kemudian digantikan oleh Malahayati.

Oleh Sultan Riayat Syah, ia pun diberi pangkat laksamana dan menjadi perempuan pertama di dunia kala itu yang menyandangnya, seperti dikutip dari buku Perempuan Keumala. Sebuah rencana besar pun diungkapkan Malahayati kepada Sultan. Ia mengaku ingin membangun sebuah armada tempur laut yang seluruh prajuritnya adalah perempuan.

Ia menamakan pasukan elit tersebut dengan Inong Balee, atau prajurit perempuan yang berstatus janda. Jumlahnya pun tidak main-main, mencapai 2.000 orang. Mereka seluruhnya adalah para janda dari prajurit yang gugur saat bertempur melawan Portugis.

Berbekal kemampuan yang didapat ketika menimba ilmu di Mahad Baitul Maqdis, Malahayati melatih Inong Balee menjadi pasukan tempur yang disegani.

Apalagi saat belajar di Mahad Baitul Maqdis, Malahayati ditempa oleh instruktur-instruktur perang tangguh dari Turki, seperti yang tertulis dalam buku Malahayati: Srikandi dari Aceh. Sultan Aceh kemudian mendaulatnya sebagai panglima armada laut, atau laksamana, dan ia menjadi perempuan pertama di dunia yang menyandang jabatan tersebut.

Sultan juga membekali pasukan Inong Balee dengan 100 unit kapal perang berkapasitas masing-masing 400 pasukan.

Pasukan Inong Balee mulai dilibatkan dalam beberapa peperangan melawan Portugis dan Belanda. Wilayah pertempuran mereka tidak hanya sebatas di perairan Selat Malaka, tetapi juga sampai ke pantai timur Sumatra dan Malaya.

Mereka juga membangun Benteng Inong Balee di sebuah perbukitan tak jauh dari pesisir Teluk Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Tempat perlindungan pertama yang seluruhnya dibangun oleh kaum hawa ini memiliki tinggi tembok sekitar 100 meter dan cukup aman untuk menahan serangan musuh.

Benteng tersebut menjadi koloni pasukan Malahayati sekaligus pusat pelatihan tempur Inong Balee. Pasukan Malahayati juga menjalankan misi khusus, yakni mengamankan jalur laut perdagangan kesultanan serta mengawasi pelabuhan-pelabuhan samudra Aceh saat itu.

Akhirnya, pada 21 Juni 1599, dua kapal Belanda, de Leeuw dan de Leeuwin, berisi pasukan perang yang dipimpin oleh dua bersaudara, Cornelis dan Frederik de Houtman, ingin bersandar di pelabuhan Aceh Besar. Bumi Serambi Makkah itu menjadi tujuan mereka setelah sebelumnya menyinggahi Banten, Madura, dan Bali untuk berburu rempah-rempah.

Hanya saja, mereka selalu menemui perlawanan masyarakat setempat karena tabiat pasukan de Houtman bersaudara yang tidak disukai. Hal serupa juga dialami saat mencapai Aceh Besar. Mereka tertahan di atas kapal di tengah laut karena tidak mendapatkan izin dari Sultan.

Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee telah menunggu dan bersiaga. Sultan pun memerintahkan Laksamana Malahayati untuk mengusir dua kapal Belanda tersebut. Pertempuran di tengah laut tak terelakkan. Pasukan Inong Balee berhasil menghancurkan dua kapal dagang itu.

Dalam duel satu lawan satu di atas kapal musuh pada 11 September 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan Cornelis. Nyawa Cornelis pun melayang di ujung rencong Malahayati. Ck…ck…ck…kita coba bayangkan adegan heroik ini, mungkin kita pernah melihat film laga yang dibintangi artis China Zhao Liying yang hanya fiksi. Tapi tokoh kita kali ini bukan tokoh fiktif, melainkan nyata yang tertulis dalam sejarah dengan tinta emasnya.

Seperti dikisahkan sejarawan Marie van C. Zeggelan lewat bukunya Oude Glorie yang terbit pada 1935, Belanda disebutkan banyak kehilangan pasukan mereka, dan sebagian yang masih hidup, termasuk Frederik de Houtman, dijebloskan ke penjara.

Tak hanya cakap sebagai panglima perang di lautan, Malahayati juga dikenal sebagai juru runding yang piawai. Pemerintah Belanda mengajukan permohonan pembebasan para tawanan perang mereka yang ditahan oleh pihak Kesultanan Aceh, termasuk Frederik de Houtman.

Sultan pun mengutus Malahayati untuk maju ke meja perundingan menghadapi Belanda. Sebuah syarat pun diajukan, yaitu Belanda harus membayar ganti rugi atas peperangan yang mereka timbulkan demi membebaskan prajurit-prajurit yang dipenjara.

Malahayati juga dipercaya menerima utusan khusus Ratu Elizabeth I, bernama James Lancaster, yang juga seorang saudagar dagang besar pada masanya. Lancaster mengunjungi Aceh pada 5 Juni 1602 dengan kapalnya, Red Dragon.

Ia mengutarakan maksudnya kepada Malahayati untuk membeli rempah-rempah Aceh, seperti saat mengunjungi Maluku dan Banten. Misi tersebut berlangsung sukses karena Malahayati setuju dengan tawaran Lancaster, bahwa mereka hanya ingin berdagang dan bukan berperang.

Malahayati wafat pada 1615 dan dimakamkan di dekat bentengnya di Desa Lamreh, Krueng Raya.

Selain disematkan sebagai nama salah satu kapal perang TNI-Angkatan Laut (AL), Malahayati juga dijadikan nama pelabuhan di Desa Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.

Pelabuhan Malahayati yang dimulai sejak masa Sultan Iskandar Muda, sebelum 1970, digunakan sebagai pelabuhan transit. Lalu sempat dialihfungsikan menjadi tempat persinggahan kapal dan menjadi mangkrak pasca-tragedi tsunami tahun 2004.

Baru pada 2007, Pelabuhan Malahayati kembali beroperasi untuk mengangkut produk ekspor asal Aceh ke kawasan Eropa dan Timur Tengah.

Topik :
Akhlak Kisah Tarbiyah

Terkait