Muhasabah yuk!
Mengelola pendidikan di tingkat SMA merupakan sebuah tantangan tersendiri, karena di saat ini siswa telah melewati masa kanak-kanak dan proses pembentukan karakter mulai berlangsung.
Jika diibaratkan sebuah kue, siswa SMA sudah menjadi kue yang matang, bukan lagi adonan yang harus dibentuk. Jika bentuk kue sesuai dengan visi dan misi pesantren, maka alhamdulillah.
Namun jika belum, ini menjadi sebuah masalah. Bagaimana cara membuat kue donat yang manis dengan adonan berasa gurih asin, tentu para ibu bisa membayangkannya. Oleh karena itu, semua pihak, baik guru maupun wali murid, harus menyadari pentingnya kerjasama yang lebih intensif.
Jika pesantren diibaratkan sebagai sebuah mesin produksi, untuk menghasilkan output yang unggul, bahan baku yang berkualitas tinggi juga diperlukan. Dengan bahan yang premium (siswa), dan mesin produksi yang canggih dan berkualitas (pesantren), maka hasilnya pun akan maksimal.
Dari sinilah pentingnya kita melakukan muhasabah, yaitu melakukan evaluasi diri demi menghasilkan generasi yang berkualitas dan berakhlak mulia.
Sebab, akhlak adalah tindakan atau respons spontan tanpa melalui proses berfikir terlebih dahulu, sehingga pembiasaan sejak dini sangat diperlukan.
Di sinilah peran orang tua sangat penting, karena apa yang dikonsumsi anak dari rizqi orang tua juga berpengaruh besar terhadap pendidikan mereka, apakah halal, syubhat, atau bahkan haram. Naudzubillah min dzalik.
Selain orang tua, guru juga perlu melakukan koreksi diri. Jika kita telaah secara mendalam, selain faktor orang tua dan kurikulum, guru merupakan faktor utama yang mempengaruhi dan mengubah karakter peserta didik.
Oleh karena itu, guru harus selalu melakukan perbaikan dan peningkatan diri. Jika kita ingin anak didik kita sopan santun, maka sebagai guru kita harus memberi contoh dan teladan dalam berperilaku sopan. Jika kita ingin anak rajin sholat malam dan membaca Al-Qur’an, kita pun harus menjadi teladan dalam menghafal dan beribadah.
Pada akhirnya, mendidik ibarat mengisi ulang keimanan peserta didik. Untuk mendapatkan hasil maksimal, kita harus menjaga keimanan kita agar tetap kuat dan tidak lemah, bahkan penuh.
Wallahu a’lam bish-shawab.



