Terbunuhnya Kholifah Utsman RA Noktah Hitam Kelamnya Sejarah Islam (Part 1/3)
Khalifah Uthman RA menjabat sebagai khalifah setelah Khalifah Umar bin Khathab RA, yang syahid. Ia ditusuk oleh Abu Lu’lu’, seorang warga Persia beragama Majusi. Peristiwa ini penuh kontroversi karena motif pembunuhannya tidak dapat diungkap secara pasti, dan setelah membunuh khalifah Umar, pelaku bunuh diri dengan menusuk dirinya sendiri.
Ada yang menganalisis penyebabnya sebagai fanatisme nasionalisme yang menghunjam dada, karena melihat negaranya yang agung, imperium Persia, salah satu negara adidaya saat itu, selain imperium Romawi, hancur lebur dan porak-poranda oleh kekuatan umat Islam di bawah kepemimpinan Umar RA. Rasa benci dan dendam yang mendalam mendorong pelaku untuk menghabisi khalifah tersebut.
Khalifah Uthman bin Affan RA menjabat setelah peristiwa ini, yang mengindikasikan adanya kekuatan asing yang tidak menyukai Islam menaklukkan negeri mereka, dan telah mencapai sepertiga dunia pada masa Umar RA. Bahkan, beberapa negeri sempat terlepas dari Daulah Islamiyah (انتقضت من الدولة الاسلامية), namun pada masa kekhalifahan Uthman, negeri-negeri tersebut berhasil dikembalikan ke pangkuan Daulah Islamiyah, di antaranya: Sijistan, Khorasan, Armenia, Azerbaijan, Tabriz, bahkan melampaui, hingga menaklukkan wilayah seperti Hindustan, Jurjan, Kabul (Afghanistan).
Di antara karya monumental beliau (Khalifah Uthman) adalah:
- Perluasan Masjid Haram tahun 26 H
- Perluasan Masjid Nabawi tahun 39 H
- Menyatukan umat Islam dalam satu qiroah dan satu mushaf yang dikenal dengan Mushaf Utsmani
Lalu, muncul fitnah besar (الفتنة الكبرى) yang dimaksud di sini adalah upaya musuh-musuh Islam dalam menciptakan kegaduhan dan kekacauan, atau disabilitas dunia Islam pada masa akhir kekhalifahan Uthman bin Affan hingga menyebabkan beliau syahid. Fitnah ini berlanjut dan menyebabkan perselisihan di kalangan sahabat Nabi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib RA.
Ternyata, dalang di balik fitnah besar ini adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dengan tujuan menghancurkan Islam dari dalam, bernama Abdullah bin Saba’ al-Yahmāni, atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Saudaa'.
Apa fitnah yang dia lancarkan? Apa pula strateginya?
- Keliling dunia Islam (Hijaz, Bashrah, Kufah, Syam, Mesir) mencari dukungan dari orang-orang munafik. Ia berhasil mendapatkan dukungan dari munafikin di Mesir, Kufah, dan Bashrah, sementara Hijaz dan Syam steril dari kaum munafik yang masuk ke Hijaz, termasuk Makkah, Madinah, dan wilayah Syam seperti Suriah dan Palestina.
- Ia dan pendukungnya menyebarkan hoaks bahwa Uthman RA dan pejabat-pejabatnya adalah orang jahat dan dzalim, serta banyak makan harta kaum Muslimin.
- Menyebarkan ajaran sesat, di antaranya mengklaim bahwa Nabi belum wafat dan akan kembali ke dunia.
- Mengklaim bahwa Nabi mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali bin Abi Thalib RA.
- Mencaci-maki sahabat Nabi.
Inilah yang dilakukan musuh-musuh Islam zaman dahulu, seperti zaman Khulafaur Rasyidin. Begitu pula hari ini, mereka menyebarkan berita hoaks, dan hal ini cukup efektif, terutama di masyarakat yang kurang literasi. Masyarakat yang tidak kritis dan tidak memiliki filter akan menerima dan menelan mentah-mentah berita tersebut.
Hari ini, umat Islam tertinggal dalam menyikapi berita berbeda dibandingkan zaman keemasan Islam dahulu. Dalam ilmu hadis, orang yang menyampaikan hadis harus cerdas, memiliki hafalan Quran dan hadis yang banyak, tidak pelupa, dan tidak terindikasi pernah berdusta, bahkan tidak berdusta kepada binatang sekalipun, seperti memanggil kucing dan tidak memberi apa-apa setelah itu. Inilah warisan Islam yang terlupakan.
Di tengah maraknya berita miring hari ini, kita seolah lupa tata cara mendapatkan berita yang adil dan seimbang, yang diperoleh dari berbagai sudut pandang dan dari dua sumber yang berlawanan. Di TVOne, misalnya, ada dua sisi yang disajikan, meskipun tidak sempurna, setidaknya berita diambil dari dua sisi agar seimbang dan adil, antara yang pro dan kontra. Hoaks itu mematikan; orang jahat dipermainkan sebagai pahlawan, orang baik diposisikan sebagai jahat, dan pengkhianat.
Ada cerita di pasar budak tentang seorang budak yang memiliki kekurangan dan sering berbohong besar dua kali setahun. Suatu hari, ia membeli budak tersebut, dan benar-benar melakukan kebohongan pertamanya. Ketika tuannya sedang safar, budak itu berkata kepada nyonya dengan ekspresi takut dan sedih, sambil berlinang air mata: “Nyonya, Tuan mendapat musibah, beliau ditipu, disiksa, dan dibunuh oleh relasi bisnisnya.” Mendengar itu, nyonya rumah pun menjerit dan menangis tersedu-sedu, meratap, lalu menghancurkan barang-barang di rumah, seperti guci dan barang antik.
Sementara itu, nyonya tersebut menangis, dan si budak langsung menuju ke tempat tuannya sambil menangis dan berteriak: “Tuan, rumah kita dirampok dan nyonya tidak bisa kami selamatkan. Beliau juga menjadi korban.” Akhirnya, tuan pun menjerit dan meninggalkan bisnisnya tanpa sempat mengurusnya terlebih dahulu. Ia pulang dengan tergesa-gesa dan mendapati istrinya menangis dengan mata yang sudah membengkak. Ketika ditanya, istrinya menceritakan kejadian tadi, dan suaminya pun menceritakan hal yang sama. Mereka akhirnya sadar bahwa mereka menjadi korban kebohongan budaknya.
Terkadang, orang hanya berpikir, “Ah, cuma bohong kecil saja,” tanpa menyadari akibat dari kebohongan tersebut yang bisa menghancurkan hidup orang lain, menghancurkan rumah tangga, dan yang terparah, menghancurkan kaum Muslimin melalui berbagai kerusuhan dan kegaduhan.
Melalui tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk kembali menerapkan tata cara memperoleh berita yang benar melalui investigasi, tabayun, melihat siapa yang berbicara, dan menilai dari sudut pandang agama. Apakah berita tersebut muttahim bil-kadzib (berita yang sesuai dengan kebenaran) atau tidak.
Selain itu, ajaran sesat di negeri kita pun tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Setiap kali ada aliran sesat, pasti ada pengikutnya. Contohnya adalah Lia Eden, Ahmad Mushodiq, Inkaarus Sunnah, Ahmadiyah, dan lain-lain. Bisa jadi ini juga merupakan strategi musuh-musuh Islam dalam menghancurkan Islam di Bumi Nusantara.
Bersambung…
Nurul Hadid
Senja, 19-01-2026



