Terbunuhnya Kholifah Utsman RA Noktah Hitam Kelamnya Sejarah Islam (Part 2/3)

Di antara faktor utama meledaknya fitnah besar tersebut, selain intrik dari Abdulloh bin Saba, terdapat juga faktor lainnya, di antaranya:

  1. Kemakmuran dan kemewahan hidup kaum Muslimin pada masa kekhalifahan Utsman. Persia telah ditaklukkan pada zaman Khalifah Umar RA, dan istana putih Persia sudah ditinggalkan. Bahkan ketika panglima Saad bin Abi Waqas memasuki istananya, beliau sambil melantunkan Al-Qur’an, surat Ad-Dukhan ayat 25 sampai 29:

{كَمۡ تَرَكُواْ مِن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ}

“Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,”

{وَزُرُوعٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ}

“juga kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah,”

{وَنَعۡمَةٖ كَانُواْ فِيهَا فَٰكِهِينَ}

“dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana,”

{كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ}

“Demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain.”

{فَمَا بَكَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّمَآءُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَا كَانُواْ مُنظَرِينَ}

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka, dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.”

Oleh Panglima Saad bin Abi Waqas, istana putih tersebut dijadikan markas tentara, sedangkan istana putihnya dijadikan masjid.

  1. Perbedaan karakter kepemimpinan antara Umar RA dan Utsman RA. Khalifah Umar bin Khattab terkenal lugas dan tegas, berbeda dengan karakter khalifah setelahnya yang cenderung pemalu. Ada sebuah hadis yang memotret momen ini.

Suatu ketika Nabi sedang santai di rumahnya, lalu sahabat Abu Bakar meminta izin masuk, dan beliau pun mempersilahkan. Posisi beliau tersingkap sedikit betisnya, lalu Abu Bakar masuk. Kemudian Umar RA diizinkan masuk, dan akhirnya Utsman RA pun masuk.

Nabi pun berbenah, menutupi sebagian betis beliau yang tersingkap, baru mengizinkan Utsman masuk. Aisyah RA yang melihat pemandangan ganjil ini pun bertanya, mengapa engkau memperlakukan Utsman RA berbeda dengan sahabat yang lain? Nabi menjawab bahwa Utsman itu seorang pemalu.

Jika dia melihat aku dalam kondisi seperti ini, dia tidak akan masuk karena malu. Selain pemalu, Utsman juga orang yang memiliki toleransi tinggi, selalu lapang dada, bahkan terhadap orang-orang yang memfitnahnya dengan keji. Juga, ketika Umar RA wafat, Aisyah RA menangis sambil berkata, “Sungguh Islam akan menjadi lemah setelah ini.”

  1. Beberapa kabilah keberatan dengan kepemimpinan orang Quraisy, terutama penduduk Kufah yang merupakan gembong fitnah dalam literasi Arabnya (قاعدة الفتنة الكبرى). Khusus penduduk Kufah, penulis mendengar dari Ustadz Budi Azhari bahwa mereka adalah masyarakat yang aneh.

Khalifah Umar pun pernah mengeluhkannya. Bahkan dalam ilmu hadis, jika hadis masuk ke Kufah, sejengkal keluar Kufah bisa sehasta, artinya hadis Nabi bertambah hingga menjadi hadis palsu. Ketika Kufah dipimpin oleh Hajjaj bin Yusuf, Ustadz Budi Azhari mengomentari bahwa memang orang yang pantas memimpin mereka adalah Hajjaj.

Pada hari pelantikan Hajjaj, pidatonya seperti ini: “Aku tadi dari rumah membawa dua tongkat (tongkat kasih sayang dan tongkat hukuman), tapi tongkat kasih sayangku jatuh entah ke mana.” Sungguh, aku melihat kepala-kepala yang ranum, siap dipetik (dipenggal). Hajjaj terkenal sebagai pemimpin yang sering mengeksekusi rakyatnya.

  1. Khalifah Utsman mengangkat kerabatnya (walaupun memang kompeten) menjadi pejabat pemerintah. Akibatnya, ini menjadi tuduhan nepotisme terhadap beliau.

Namun, seyogyanya kita sebagai umat Islam tidak mengatakan hal buruk, apalagi mencaci sahabat, karena Nabi SAW sudah menjamin bahwa amalan sahabat tidak tertandingi oleh siapa pun, baik zaman Nabi hingga akhir zaman. Terutama Khalifah Utsman RA, yang termasuk dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Fitnah besar ini mulai menyebar pada tahun 34 Hijriah dan menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia Islam. Lalu, apa saja strategi Khalifah Utsman dalam menghadapi fitnah besar ini?

Langkah-langkah yang beliau tempuh:

  1. Mencopot sebagian pejabat lalu menggantinya untuk meredam fitnah.

  2. Memanggil pejabat-pejabat penting guna musyawarah menghadapi fitnah ini.

  3. Atas saran para sahabat, Khalifah Utsman mengirim tim intelijen atau informan untuk investigasi lapangan.

  4. Mengumumkan ke seluruh negeri bahwa siapa pun yang memiliki aduan terhadap pejabat Utsman, hendaknya datang pada musim haji untuk memperoleh haknya.

  5. Khalifah Utsman memanggil seluruh pejabatnya pada musim haji untuk berkumpul bersama.

Setelah orang-orang yang mengadu datang, para sahabat menyarankan agar Khalifah bertindak tegas memutus fitnah sampai ke akar-akarnya agar tidak muncul lagi di masa depan (ان يقطع دابر الفتنة). Namun, Khalifah Utsman enggan karena sangat khawatir tindakannya akan mendholimi orang atau bahkan membuka pintu fitnah, padahal beliau sudah difitnah besar-besaran.

Tetapi, beliau menghadapi fitnah ini dengan sabar dan berkata, “Rasulullah telah membuat janji padaku dan aku akan bersabar untuk itu.” Jauh sebelum kejadian ini, Rasulullah sudah berpesan bahwa jika engkau menjabat khalifah dan ada orang yang ingin mencopotmu, jangan kamu lepas.

Akhirnya, para penghasut bergerak ke Kota Madinah (مدينة النبي). Abdulloh bin Saba’, seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya, adalah seorang Yahudi pura-pura masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Ia terus menyebarkan rumor, desas-desus, berita bohong, dan fitnah dalam literasi Arabnya (الاشاعات والاراجيف) terhadap Khalifah Utsman RA.

Mereka saling bertukar informasi melalui surat dan utusan, terutama di tahun 34 Hijriah, dari penduduk Bashrah, Kufah, dan Mesir, yang turun ke Madinah dalam jumlah besar setelah musim haji tahun 34 H. Setelah Khalifah Utsman mengetahui maksud dan tujuan mereka, yaitu untuk membunuh atau mencopot beliau, beliau mengumpulkan mereka semua di Masjid Nabawi dan memberi pencerahan.

Terjadilah dialog, dan semua argumen Khalifah Utsman mampu dipatahkan sehingga mereka kehabisan kata-kata dan bubar. Namun, mereka diam-diam berjanji untuk berkumpul lagi di Madinah tahun berikutnya.

Pada bulan Syawal tahun 35 Hijriah, para revolusioner ini kembali ke kota Madinah. Penulis berusaha memahami arti mereka, yaitu kaum revolusioner yang merupakan anak buah Abdulloh bin Saba’, yang berencana melakukan tindakan keji, yaitu membunuh Khalifah Utsman atau mencopot kekhalifahan beliau.

Mereka berkamuflase seolah-olah hendak pergi berhaji, tetapi mereka menemukan bahwa para sahabat Radhiyallahu Anhum sudah dalam kondisi siap perang. Para sahabat berusaha memecah kekuatan mereka berdasarkan saran Khalifah Utsman.

Akhirnya, para sahabat menegur dan mengusir mereka, serta memberi kabar gembira bahwa mereka akan masuk neraka. Tampak mereka pulang ke kampung halaman mereka, tetapi itu hanyalah strategi mereka. Malam hari, mereka tiba-tiba kembali ke Madinah dan mengepung kota tersebut.

Mereka mengajukan tuntutan kepada Khalifah, dan beliau meloloskan sebagian tuntutan dengan membuat kesepakatan bahwa Khalifah akan mencopot beberapa pegawainya. Setelah itu, mereka pulang. Namun, anehnya, setelah menempuh perjalanan jauh, mereka kembali ke Madinah dengan tuduhan bahwa Khalifah menulis surat perintah untuk membunuh mereka semua, yang dibawa oleh kurir.

Bersambung

Nurul Hadid
23 Januari 2026

Topik :
Kisah Akhlak

Terkait