Ummatan Wasathon

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

[Surat Al-Baqarah: 143]

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan”agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

Penulis mencoba membuka kitab tafsir Qurthuby, Tafsir Wasathon, yang artinya “Al-Adl” (Keadilan). Jadi, “Ummatan Wasathon” berarti umat yang adil, yang akan menjadi saksi atas seluruh umat di Padang Mahsyar nanti. Sebagaimana salah satu pilar Aqidah Ahlus Sunnah, بين جانبي الإفراط والتفريط, yang artinya di antara sisi berlebih-lebihan dan sisi meremehkan atau mengurangi.

Syaitan dalam menggoda manusia melalui dua sisi ini. Bagi orang yang memiliki kecenderungan semangat, syaitan akan menggodanya untuk berlebihan dalam suatu amal hingga berakibat lalai terhadap amal lainnya. Jika cenderung malas, syaitan akan membuatnya merasa nyaman dengan berbagai alasan.

Ummatan Wasathon adalah umat yang menganut sikap tawazun atau keseimbangan dalam hidup. Jika kita memotret dari sisi wanita, wanita yang memiliki kedudukan dan peran sebagai hamba Allah.

Sebagai anak, sebagai istri, orang tua, dan sebagai anggota masyarakat. Kita para wanita dituntut menjalankan semua itu secara tawazun. Sekalipun sibuk dalam berbagai kegiatan, jangan lupa kedudukan dan peran utama sebagai Hamba Allah. Bila Allah sudah memanggil kita dengan adzan, kita harus segera sholat, sebagai manifestasi sebagai hamba Allah yang paling utama dan pertama.

Sekalipun sibuk sebagai ustadzah, jangan lalai mendidik anak biologis kita sendiri. Hal ini tidak seharusnya terjadi. Semua itu adalah amanah, dan setiap amanah akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

Meski peran wanita di ranah domestik, wawasan harus mendunia, karena anak cenderung berkonsultasi dengan ibunya sebelum berkonsultasi dengan ayahnya.

Dari sini pentingnya tholabul ilmi, terutama mengenal zaman. Ada atsar dari sahabat Ali RA, “Didiklah anakmu karena ia akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu.” Jadi, mendidik anak sesuai zaman. Apalagi jika kita melihat periode kepemimpinan umat Islam dari zaman kenabian, lalu zaman Khulafaur Rasyidin, Mulkan Adh-Dhon / kerajaan yang menggigit, Mulkan Jabariyan / kerajaan diktator, dan yang terakhir, khilafah ala minhaji Nubuwwah.

Menurut sebagian ulama, yang penulis dengar dari ceramah Ustadz Budi Ashari, kita hari ini berada di fase keempat, yaitu fase kerajaan yang diktator.

Berarti kita akan menghadapi fase kelima, yaitu tegaknya khilafah ala minhaji Nubuwwah, di mana jika zaman itu datang, semua sistem kehidupan akan berdasarkan Islam. Politiknya Islam, kesehatannya sistem Islam, pendidikan pun demikian, semua lini kehidupan akan Islami.

Jadi, apa yang perlu dipersiapkan generasi ini untuk menyambut era tersebut? Tak lain dan tak bukan adalah mempelajari Islam secara teori maupun aktualisasinya di lapangan.

Jangan sampai seperti kita hari ini yang hanya menjadi penonton ketika peradaban Yahudi memimpin dunia. Generasi kita juga jangan sampai menjadi penonton ketika peradaban Islam memimpin dunia.

Sebagai perempuan, kita tidak perlu minder atau berkecil hati. Sejarah menulis dengan tinta emas bahwa orang pertama yang mati syahid di jalan Allah adalah perempuan bernama Sumayyah.

Bahkan, apakah Anda tahu bahwa dibukanya mahasiswa Al-Azhar Kairo terinspirasi oleh tokoh wanita bernama Rahmah Al-Yunusiyah? Ketika rektor Al-Azhar berkunjung ke Ath Thowalib Lilbanaat Padang Panjang dan bertemu dengan Rahmah Al-Yunusiyah sebagai mudirrohnya.

Setelah kunjungan itu, beliau lalu membuka kelas mahasiswa di Universitas Al-Azhar karena terinspirasi oleh Rahmah Al-Yunusiyah. Betul kata Pak Anis Baswedan dari Indonesia, “Menginspirasi dunia.” 

Barakallahu fiikum.

Topik :
Akhlak Aqidah Keluarga

Terkait