Peran Sosial Ukhty Muslimah

Kesadaran berislam tumbuh dimana-mana, gaungnya menembus berbagai lini kehidupan.

Di dunia pendidikan, orang sudah banyak yang melirik system boarding school, dunia perbankkan sudah mulai tumbuh bank-bank syariah (meski perlu banyak koreksi dalam tataran prakteknya).

Ini menunjukkan kesadaran umat islam untuk bebas dari riba yang diharamkan. Dunia fashion, jilbab sudah menasional, berbeda sekali dengan era 8o-an yang mana jilbaber bisa dihitung dengan jari.

Di dunia medis, thibbun nabawi sudah mulai masyhur dipraktekan umat Islam (ini juga masih harus banyak-banyak kontrol dan evaluasi dalam tataran prakteknya).

Sebagai langkah awal, atau pioneer kita perlu support, sekaligus koreksi dan evaluasi. Pada kondisi seperti ini sungguh naïf bila kita tidak menyentuh wanita untuk diajak peran serta di dalamnya.

Ya, kita harus mengoptimalkan peran wanita, mengapa tidak? karena wanita adalah bagian dari umat ini, separuhnya, atau bahkan lebih.

Kalau kita buka lembaran siroh, akan kita jumpai peran para shohabiyah yang sangat mengagumkan.

Disamping itu peran mereka pada ranah sosial tidak menimbulkan ekses dalam rumah tangga mereka; rumah tangga mereka tetap kokoh, anak anak merekapun berkualitas.

Para shohabiyah juga ikut melakukan baiat, diantaranya ialah Umaimah binti Ruqoiqoh (Al ishobah oleh Ibnu Hajar), Mu’adzah (Usudul ghobah leh Ibnu Atsier), Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb (Imam Ath Thobari dalam tarikhnya), Fatimah binti Utbah saudari Hindun (Alishobah karya Ibnu Hajar).

Mereka juga ikut berhijrah bersama para shohabi seperti Ummu Salamah (muhajiroh pertama kali ke Habasyah) (Al Ishobah 8;240), Ummu Habibah, Asma’ binti Umais.

Ada shohabiyah yang berprofesi perawat, yaitu Rufaidah Al-Anshoriyyah Al-Aslamiyah . Ia seorang wanita dari kabilah Aslam, ia memiliki ruang praktik di Masjid Nabawi.

Ketika Saad bin Muad terluka pada perang Khondak Rosulullah Shollallohu’alaihi Wasallam memerintahkannya di tempatkan di ruang praktik Rufaidah. Dan Rufaidah merawat pasiennya secara cuma-cuma alias gratis. (Al Ishobah karya Ibnu Hajar).

Ada shohabiyah yang suka merias para wanita (tentu merias untuk suami bukan untuk tabarruj), ia bernama Ummu Ri’lah Al-Qusyairiyyah, lalu ia tanyakan profesinya itu pada Rosululloh, apakah dilarang dalam dinul islam, lalu Nabi pun menjawab, tidak, bahkan Beliau mengukuhkan profesinya tersebut (Usudul Ghobah oleh Ibnu Atsir dan Al-Ishobah oleh ibnu Hajar).

Ummu Sinan Al Aslamiyah yang pada awal keberangkatannya ke medan jihad Khoibar sebagai perawat dan logistik mujahidin, akan tetapi ia mahir pula merias , hingga ketika Nabi menikahi Shofiyyah binti Huyyay, ialah yang menyisir dan merias mempelai wanitanya. (Al waqidi dalam maghozy:687).

Ada guru baca tulis, seperti Syifa binti Abdulloh bin Abdusy Syams Al-Quroisiyyah guru baca tulis Aisyah dan Hafshoh ummahatul mukminin (Al Ishobah 7:120-121). Dan jubir wanita ; Asma binti Yazid Assakan Al-Anshoriyyah yang merupakan putri paman Muadz bin Jabal, ia juga turut serta perang Yarmuk dan ia berhasil membunuh 9 tentara Romawi dengan tiang tenda, dan menghadiri pula fathu Makkah (usudul ghobah oleh Ibnul Atser,Al Ishobah karya Ibnu Hajar) .

Ada perajurit wanita, Nusaibah ibunya Amaroh (Srikandi Perang Uhud) pada awalnya ia ikut ke medan uhud bersama suami dan kedua anaknya, ia membawa qirbah tempat air untuk minum mujahidin, akan tetapi ketika pasukan islam kocar kacir, dan Rosululloh terancam ia terjun ke kancah jihad demi melindungi Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam.

Nusaibah juga menghadiri malam perjanjian Aqobah, ikut dalam perang hunain, perdamaian hudaibiyyah, perang yamamah yang mana putranya yang bernama Hubaib ditawan oleh Musailamah, disiksa hingga dibunuh dengan cara dipotong potong tubuhnya, mendengar kabar kesyahidan putranya ia bernadzar tidak akan mandi sampai dapat membunuh musailamah, hanya saja taqdir berkata lain bahkan tangannya putus pada perang yamamah ini (Thobaqot Ibnu Saad) .

Ummu Harom binti Milhan, ia saudara Ummu Sulaim ia meninggal saat terjadi perang Qibris, setelah menyeberangi laut Ummu Harom naik kendaraan dan tersungkur hingga meninggal dunia dan dikuburkan disana (Ibnu Atsir dalam Ushudul Ghobah ).

Ada perawi hadist, bahkan dalam sejarah diceritakan pada zaman permulaan Islam banyak sekali guru guru wanita dan juga perowi hadits yang ilmunya banyak dimanfaatkan kaum laki laki maupun wanita.

Ibnu Saad bercerita ada 700 wanita yang meriwayatkan hadits dari Nabi atau dari sahabat Nabi shollallohu’alaihi Wasallam. Ibnu Hajar Al-Atsqolani di dalam Kitabnya Al-Ishoobah fie Tamyiizishshohaabah memaparkan riwayat 1543 wanita perawi hadits yang diakui keilmuan dan ketsiqohannya oleh beliau.

Dan sebagai tokoh pelopornya adalah Ummul Mukminin Aisyah beliau perowi hadits terbanyak pada urutan ke 3, beliau meriwayatkan 2210 hadits.

Setelah Rosululloh wafat usia Aisyah kurang lebih 20 tahun dan meninggal pada usia 66 th. Pada rentang usia tersebut (20 hingga 66 tahun) Aisyah betul betul sebagai rujukan ummat, baik laki laki maupun wanita.

Imam Adz Dzahabi (wafat tahun 748H) seorang ahli hadist terpecaya menyusun kitab Mizaanul I’tidal yang mengoreksi perawi hadist, beliau berkomentar dalam kitab tersebut ada sekitar 4000 perawi dituduh berdusta, dan saya tidak melihat seorang wanitapun yang tertuduh berdusta ataupun ditinggalkan haditsnya. (Mizanul I’tidal 3:395) .

Al-Hafidz Ibnu Asakir (wafat tahun 571 H) yang sangat ahli hadist hingga mendapat julukan Haafizhul ummah, 80 lebih gurunya wanita. (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah 4:273)

Apakah kita merasa heran? lalu dimanakah guru-guru wanita yang diakui keilmuannya hari ini?

Tulisan ini juga sebagai panduan bagi Ukhty muslimah yang akan memasuki bangku kuliah, kira-kira peran apa yang akan ia lakoni selepas kuliah nanti, sehingga tidak salah dalam memilih jurusan.

Berikut beberpa bidang yang butuh uluran Ukhty Muslimah :

1.Bidang pendidikan

Munculnya pendidikan islam dari Play group,TK, SD, SMP, SMA sampai Universitas, Pesantren-pesantren putri, ini juga lahan dakwah yang menantang Ukhty Muslimah untuk terjun berkiprah di dalamnya. Terkhusus pesantren putri, para asatidzahlah yang harus lebih berperan aktif agar lebih terjaga batasan batasan syar’inya juga lebih menguasai permasalahan sesama wanita.

2. Kesehatan

Dalam bidang kesehatan tidak ketinggalan, berbagai pelatihan thibbun nabawi digelar, ini jangan sampai disia siakan Ukhty Muslimah, sehingga muncul herbalis-herbalis Muslimah handal yang mampu menangani pasien sesama wanita, sehingga aurat bisa tetap terjaga, tidak seperti kondisi rumah sakit hari ini dimana para pasien wanita ditangani oleh para dokter pria, sampai dalam persalinanpun.

Yang namanya aurat, meski batas minimalis sama sekali tidak menjadi perhatian seperti buka kerudung, buka baju, sampai benar benar telanjang, terjadi di rumah sakit hari ini. Kalau dikategorikan darurat, mestinya bersifat sementara, tidak berlarut larut seperti ini, jadi harus sudah ada solusinya.

3.Kebidanan

Bagi seorang wanita tidak ada ruginya bila dia ahli kebidanan syukur sampai menjadi spesialis kandungan, selain bisa menolong kelahiran orang lain juga ilmu yang amat sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri. Karena proses melahirkan akan dialami setiap wanita (kecuali yang mandul tentunya). Bahkan pada kondisi darurat, perang misalnya seorang Ukhty Muslimah harus bisa menolong saudarinya yang akan melahirkan. maka idealnya setiap Ukhty Muslimah harus menguasai pada bidang ini.

Sedikit cerita pada hari minggu 5 januari 2020 penulis baru saja mengikuti seminar di Ponpes Al-Muttaqin Cirebon, dengan tema seputar kelahiran Maryam Al- Muqaddasah sebagai upaya untuk mempersiapkan persalinan sesuai syariah. Penulis sempat berandai-andai jika saja semua bidan muslimah memahami syariat islam serta mengamalkannya sungguh luar biasa.

Bukan tentang metode ataupun tekniknya, karena penulis sendiri melahirkan 13 orang anak Alhamdulillah lewat jalan lahir semua (bukan caesar) . sampai yang ke 13, padahal sang bayi sudah meninggal beberapa hari di dalam. Penulis yakin bahwa urusan lahiran (mengeluarkan bayi dari Rahim) itu Alloh yang mengeluarkannya, ini yang selalu penulis tanamkan dalam hati ketika akan persalinan.

Sebagaimana Firman-Nya :

Wallahu akhrojakum mimbuthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syaian waja’ala lakumus sam’a wal abshoro wal af idah la’allakum taskuruun".

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.

Akan tetapi bagaimana sang bidan dapat memandu persalinan dengan tauhid yang benar, yang mana dalam jihad wanita ini (melahirkan) agar selalu berdzikir, tawakkal dengan sebenar-benarnya, bersabar akan rasa sakit persalinan yang dialaminya , menyemangati pasien agar tidak mudah berputus asa dari rahmat Alloh, menyarankan untuk selalu mendekatkan diri pada Alloh, berdo’a kepada-Nya. Penulis sendiri banyak merasakan keajaiban pada do’a ini dalam persalinan,´suatu ketika pernah mengalami kasus letak muka majemuk (posisi bayi ndangak bahasa jawa atau tanggah bahasa sunda) tensi lebih dari 200 dll. Karena dibalik perjuangan rasa sakit itu ada maghfiroh dari Alloh Subhanahu wa ta’ala.

4. Jurnalistik (Dunia Tulis Menulis)

Dakwah lewat tulisan sejatinya lebih ringan bagi Ukhty Muslimah yang sudah berumah tangga, selain tidak harus banyak keluar rumah juga sifatnya fleksibel, sehingga tidak mengesampingkan kewajiban rumah tangga. Namun sayang seribu sayang belum banyak Ukhty Muslimah yang melirik bidang ini, padahal banyak sekali tema-tema yang lebih pas bila penulisnya adalah wanita.

Dan masih banyak lagi seperti dikatakan Fi Ayyi Ardhin Tato', anta mas ulun ‘an islamiha “Di bumi manapun engkau berpijak, engkau bertanggung jawab atas keislamannya”. Yang jelas jangan sampai ada potensi Ukhty Muslimah terkubur, sementara umat sangat membutuhkan uluran tangannya.

Topik :
Muslimah