Rasa Aman Bagi Yang Beriman

Upaya yang dilakukan demi mendapatkan kondisi aman tersebut, tidak sedikit mengupayakannya dengan cara-cara yang justru melanggar batasan-batasan yang Allah gariskan. Ada di antara mereka yang mengupayakannya dengan kerja, kerja dan kerja alias waktu yang dimiliki dihabiskan untuk bekerja demi menghasilkan pundi-pundi harta, sehingga banyak syari’at yang dilanggar. Ada juga mereka yang mengupayakannya dengan bantuan jin, sehingga terjerumus dalam dosa syirik.

Banyak yang tidak menyadari bahwa upaya-upaya tersebut di atas, bukannya mendatangkan rasa aman, justru sebaliknya yaitu hanya akan menjerumuskan pelakunya kepada kehidupan yang sempit. Sebagaimana kabar dari Allah azza wa jalla :

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى>

Artinya : “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thoha : 124)

Bukan rasa aman yang didapat, tapi justru kebinaasan yang akan dirasakan. Fir’aun punya kekuasaan, tapi justru ditenggelamkan, qorun punya kekayaan, justru dikubur hidup-hidup ke dalam tanah bersama dengan harta-hartanya, kaum Tubba’ memiliki peradaban yang sangat maju di zamannya, salah satunya adalah bendungan air, pada akhirnya Alloh binasakan, dan masih banyak lagi kisah-kisah yang semisal. Di dunia dibinasakan, azab akhirat sudah menanti.

Rasa Aman Yang Hakiki

Apalah gunanya kekayaan, kekuasaan, dan kekuatan, jika tidak bisa mendatangkan rasa aman di dunia dan akhirat. Apa yang mereka capai hanya bersifat sementara, bahkan justru malah mendatangkan kebinasaan.

Rasa aman yang hakiki hanyalah timbul dari jiwa muthma’innah (jiwa yang tenang), jiwa yang meridhoi Alloh sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rosul.

Maka jika demikian, keamanan yang hakiki itu adalah aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa dan kesengsaraan, serta hidayah, mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Adapun mereka yang akan mendapatkan rasa aman yang hakiki adalah sebagaimana firman Allah azza wajalla :

الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون>

Artinya : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am : 82)

Ibnu Katsir rahimahulloh berkata : “mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan ibadah untuk Allah semata, dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mereka mendapatkan keamanan pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

Adapun makna dari Adz-Dzulmu dalam ayat di atas adalah perbuatan syirik. Nabi menjelaskan kegundahan para sahabat

ولما نزلت هذه الأية شق ذلك على الصحابة, وقالوا: أينا لم يظلم نفسه؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ليس الأمر كما تظنون, إنما المراد به الشرك, ألم تسمعوا إلى قول الرجل الصالح –يعني لقمان- (إن الشرك لظلم عظيم)>

Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa berat, sehingga mereka bertanya : “siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat dzolim? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :’perkaranya bukan sebagaimana yang kalian sangkakan, hanya saja maksud dari kata adz-Dzulmu adalah perbuatan syirik, apakah kalian tidak mendengar perkataan seorang lelaki sholeh –yakni Lukman- (sesungguhnya kesyirikan adalah perbuatan zholim yang besar).” (HR. Bukhari 6937 dan Muslim 124)

Para ulama menjelaskan bahwa zalim terbagi menjadi 3 :

  1. Kedzoliman yang paling dzolim yakni menyekutukan Allah azza wajalla
  2. Mendzolimi diri sendiri dengan melakukan kemaksiatan
  3. Mendzolimi orang lain

Rasa aman dan hidayah akan Allah anugerahkan kepada mereka yang memiliki keimanan yang sempurna serta terbebas dari bentuk-bentuk kedzoliman. Akan tetapi jika imannya tidak sempurna, maka baginya rasa aman yang tidak sempurna. Seperti pelaku dosa besar, dia aman dari kekal di dalam neraka tapi tidak aman dari azab, sesuai dengan kehendak Allah.

Tidak hanya rasa aman yang akan Allah anugerahkan, tapi juga Allah karuniakan kepadanya petunjuk. Di dunia Allah tuntun kepada ilmu dan amal, sedangkan di akhirat Alloh tuntun masuk ke dalam jannah.

Semoga Allah azza wajalla menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang dianugerahi rasa aman dan hidayah. Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

Referensi :

  1. Al Qur’an
  2. Fathul Majid, Abdur Rohman bin Hasan Alu Syaikh
  3. Qaulul Mufid, Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin
Topik :
Aqidah

Terkait