Self Regulated Learning dalam Pendidikan Islam

Allah telah memberikan manusia untuk berkembang dan maju, menjadi makhluk Allah yang paling baik dan menjadi Khalifah Allah di muka bumi untuk memakmurkan dunia. Allah menundukkan bumi, langit dan semua yang di alam untuk kepentingan manusia.

Sebagaiana firman Allah “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13). Akan tetapi, manusia sering lupa dari tugasnya dan lalai dengan kemampuan sehingga menjadi makhluk yang rendah (asfala saafiliin).

Dunia cepat sekali berubah. Dan mempersiapkan masa depan berarti secara aktif menciptakannya: masa depan bukanlah hal yang tak terelakkan atau sesuatu yang kita hadapi. Ada hubungan timbal balik antara masa depan dan apa yang kita inginkan, dan kita harus secara sengaja memilih untuk membangun realitas yang ingin kita alami.

Kita melihat tren global dan pengaruhnya mampu menciptakan masa depan, namun sebenarnya terserah kita untuk memilihnya tanpa harus mengikuti tren dan orang lain.

Manusia menjadi khalifah /self regulated untuk dirinya sendiri. Dia mampu mengidentifikasi kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Jika dia tidak tahu sesuatu hal, dia paham harus berbuat apa, pergi kemana dan bertanya kepada siapa.

Salah satu anekdot pendidikan dari Hasrizal Abdul Jamil tentang kurangnya pendidikan kita mengajarkan kemampuan regulasi diri. Menurut Hasrizal, selama 6 tahun kita bergantung kepada bapak dan ibu. Kemudian masuk dunia sekolah, kita tidak disiapkan untuk belajar sendiri, kebanyakan adalah suapan dari guru dengan bentuk hafalan. Kemampuan analisa, aplikasi dalam berbagai konteks dan menciptakan sesuatu yang baru tidak ada bahkan tidak tercapai.

Bentuk pembelajaran yang ada, tidak mendidik kita untuk mengenal kelemahan dan kekuatan diri kemudian dididik untuk membina kelemahan dan kekuatan tersebut agar berhasil dan sukses. 12 tahun pendidikan kita tidak menjadikan kita menjadi ‘self regulated leader‘.

Rhenald Kasali dalam bukunya ‘Self Driving‘ menyebutkan bahwa sejak dilahirkan, manusia diberikan “kendaraan” yang kita sebut “Self”. Hanya dengan self driving, manusia bisa mengembangkan semua potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Sedangkan mentalitas passenger yang ditanam sejak kecil hanya akan menghasilkan keluhan dan keterbelengguan.

Allah SWT menjelaskan tentang self regulated dalam dua tempat dalam surat Al-Quran yaitu surat Al-Hasyr ayat 18 dan Surat Ar Ra’du ayat 11.

Firman Allah surat Al-Hasyr ayat 18

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ>

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ayat tersebut menekankan adanya perencanaan yang baik dalam diri manusia atas segala tindakan selama di dunia, sehingga ia akan mendapatkan keselamatan di akhirat nanti.

Firman Allah Surat Ar Ra’du ayat 11

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ>

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Aldous Huxley mengatakan:

“There’s only one corner of universe you can be certain of improving, and that’s your own self. So you have to begin there, not outside, not on other people. That comes afterward, when you’ve worked on your own corner”

Zimmerman mengatakan tentang regulasi diri.

“What defines them as “self-regulated” is not their reliance on socially isolated methods of learning, but rather their personal initiative, perseverance, and adoptive skill. Self-regulated students focus on how they activate, alter, and sustain specific learning practices in social as well as solitary contexts. In an era when these essential qualities for lifelong learning are distressingly absent in many students, teaching self-regulated learning processes is especially relevant.” (Zimmerman, 2002)

Al-Quran telah memberikan contoh kongkrit aplikasi self regulated learning yaitu dalam kisah Nabi Musa alaihis salam yang belajar kepada Nabi Khidir alaihis salam. Musa alaihis salam digambarkan sebagai seorang murid yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dari dalam diri sendiri tanpa disuruh orang lain dan memiliki sikpa kritis dan tidak menggantungkan pemahaman pada orang lain.

Nabi Musa alaihis salam sendirilah yang memiliki inisiatif secara mandiri untuk belajar lebih dalam kepada Nabi Khidir. Jika ditinjau dalam Psikologi, bentuk kemandirian belajar yang dimiliki Nabi Musa termasuk ke dalam jenis kemandirian belajar Identified regulation, yaitu perilaku yang muncul sebagai pilihan pribadi bukan untuk kepuasan dan kesenangan tetapi untuk mencapai suatu tujuan. Individu merasakan dirinya diarahkan dan bertujuan, dan Intrinsically motivated behavior: muncul secara sukarela tanpa ada keterkaitan dengan faktor eksternal (Chairani, Subandi, 2010). keinginan yang kuat dari dalam diri Nabi Musa untuk mencari ilmu pengetahun terekam dengan sangat jelas dalam surat al-Kahfi [18]: 60:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada seorang pemuda: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi [18]:60).

Setelah Nabi Musa meng-ekspresikan rasa ingin tahunya kepada Allah dan ditanggapi oleh Allah dengan menunjukkan tempat Nabi Khidir. Nabi Musa mengekspresikan rasa ingin tahunya kepada Nabi Khidir yang dalam hal ini berperan sebagai pendidik. “Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS.al-Kahfi: 66).

Dari hal tersebut, bisa kita artikan bahwa kemandirian belajar harus disertai dengan kesungguhan. Setelah melalui proses kontrak belajar dan tawar menawar yang cukup unik (QS. Al-kahfi: 67-70). Akhirnya, Nabi Musa diterima sebagai peserta didik oleh Sang Maha Guru Khidir.

Memiliki ciri-ciri orang yang mandiri dalam belajar, yaitu kritis dan memiliki hasrat untuk mengidentifikasi sesuatu dari dalam dirinya sendiri, tidak menggantungkan pemahaman sepenuhnya kepada orang lain, serta tidak mudah putus asa. Hal tersebut bisa kita lihat dalam QS. Al-Kahfi ayat 71- 76:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا>

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا>

72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا>

73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا>

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

۞ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا>

75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا>

76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

Referensi:

Jamil Abdul Aziz, SELF REGULATED LEARNING DALAM AL-QUR’AN, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol 14 No 1 (2017), DOI: https://doi.org/10.14421/jpai.2017.141-06

Barry J. Zimmerman (2002) Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview, Theory Into Practice, 41:2, 64-70, DOI: 10.1207/s15430421tip4102_2

Tautan:

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com

Jumal Ahmad

Islamic Character Development

Topik :
Tafsir

Affiliate

Terkait